Aku yang (Berusaha) Tidak Mencintaimu
"Aku cinta kamu. Bahkan ketika begitu dalam kau mencintai kekasihmu."
Menjadi yang tak pernah terlihat memang tidak mudah, seperti adaku untukmu tak mungkin lebih besar dari harapan sebatas teman. Berbahagialah kau, sebab dengan itu aku merasa berarti.
Ketahuilah, jangan kau merasa bersalah sebab aku tersakiti. Ini hanyalah kebodohan yang kubuat, ialah merasa patah ketika kau bersamanya.
Aku memohon ampun. Karena kelancanganku menyimpan rasa cinta padamu, terlebih merasa kehilangan sedang kau tak pernah kumiliki. Bahkan tak seharusnya kepadamu aku memohon ampun. Menjadi cinta atau sekalipun benci, kau juga takkan peduli. Tetapi inilah aku, yang teramat sombong mengatakan paling menyayangimu apa adanya.
Tetapi memanglah benar. Jatuhlah dan terpuruk, maka jauh di bawah sana lenganku siap menangkap. Jatuhlah lebih dalam, sampai tak seorang pun hadirmu pada mereka diinginkan. Oleh sebabnya kau haruslah sedikit lega, karena aku masih duduk manis menunggu untukmu.
Percayalah, semua ini hanya kebohongan. Sejujurnya, yang selalu kuagung-agungkan atas dasar cinta tak betul-betul ada. Aku yang tak sekali pun memperjuangkanmu, tetapi dengan berani mengatakan perasaanku kaulukai. Sebenarnya hatiku tak pernah kaupatahkan, hanya saja diriku terlalu mengharapmu berlebihan.
Meskilah demikian, hingga kini di pundakku masih memikul setumpuk tanya, dengan jawaban yang sebenarnya tak ingin kudengar. Dan yang selalu ingin kutanyakan padamu ialah, seberapa besar kau menyayanginya. Lebihkah dari aku menyayangimu.
Itu pula, yang selalu tak pernah aku berani. Sebab kau mencintainya terlalu buta, atau aku saja yang amat tak tahu diri.
Sekali lagi, maafkan kehinaanku ini. Kau tak perlu menyeru pesuruhmu untuk menyeretku jauh-jauh dari kehidupanmu. Di sini aku cukup dengan melihatmu tertawa tanpa adanya gelisah yang kausembunyi-sembunyikan. Lalu dengan perasaan yang amat cukup aku akan berjalan menjauh. Seluruh yang ada di sepanjang jalan kepergianku darimu ini bahkan tampaknya sudah paham.
Setiap satu langkahku menghancurkan satu ingatan tentangmu. Dan aku ingin berjalan sejauh mungkin sampai kau yang di dalam tubuhku benar-benar musnah. Aku tak peduli di mana nanti kakiku akan menjadi pincang, yang terpenting tak ada lagi kamu di dalam seluruh diriku.
Mungkin napas yang kubawa ini suatu nanti tak lagi namamu, dan betapa merasa hebatnya aku terbebas dari sengsaranya mencintaimu. Itulah hari di mana penantianku tiba. Akhirnya hal-hal sakit dalam mencintaimu yang sia-sia akan melahirkan jeda. Dan barangkali itu akhir dari namamu yang terus kuhelakan, serta pula napasku yang tak sanggup lagi kuhembuskan.
Dari aku yang (berusaha) tidak mencintaimu.
Yogyakarta, Juli 2015.
Comments
Post a Comment