Mencintaimu; Diam dan Dalam

Sebuah nama di kepala memaksaku untuk menyebutnya berulang-ulang. Dialah pria yang pada suatu siang disebutkan tiba-tiba oleh teman baikku. Pertanyaan mencekat sempat mengobrak-abrik jantungku dari perempuan yang tidak lain adalah salah seorang teman baik di mana kami sering berbagi rahasia salah satunya tentang rasa. Yang membuat leherku seperti diterkam sehingga dingin tiba-tiba datang di cuaca yang terik, adalah sebuah kalimat singkat yang dilontarkannya dengan enteng, dan kalimat itu menyeret pula namamu. Bagaimana aku tidak sangat terkejut di balik responku yang seolah biasa saja, dia menyebutkan satu nama pria yang sama dengan seseorang yang detik itu juga sedang menguasai kepalaku.

Aku tidak ingin segera menebak perasaannya, entahkah dia menyukaimu seperti yang sudah aku lakukan dari jauh-jauh sebelum beberapa kata-katanya menyentak nadi, aku sama sekali belum siap. Jawaban terbaik yang sanggup kuberikan padanya hanyalah sebuah senyuman. Senyuman yang tulus. Sungguh aku takkan membiarkan egoku berkuasa menghalangi siapapun jatuh cinta, sebab aku tak lagi baru sekali merasakan patah hati, dan hal itu tidaklah mudah.

Tengah hari itu aku sedang memikirkanku, di sebuah bangku keramik panjang di depan kelas kita sepulang sekolah. Kalau memang harus kuakui, lebih tepatnya aku sedang menunggu. Bukan menunggu kedatanganmu untukku, itu tidak mungkin. Melainkan sebuah penantian bodoh hanya untuk memandangi dirimu tersenyum.

Aku salah. Seharusnya tak kubiarkan candu ini berkelanjutan. Tetapi senyummu terlalu memikat. Dan siapalah aku ini yang mampu menolak gravitasi terkuatmu dalam segala daya tarik. Di mataku, kau tak lagi pria biasa. Kau pria yang ciptakan guncangan dahsyat di sekujur jantung pada tiap persuaan tak disengaja.

Gadis seperti diriku tentu harus mahir membaca posisi. Aku hanyalah satu dari sekian wanita yang mengagumimu, tak terkecuali di antarnya sahabat sendiri. Tak ada yang salah dalam keadaan seperti ini. Semua wanita hanya mengikuti arah hatinya. Sedikit saja dari mereka yang benar-benar melawan arus karena takut terluka. Namun aku memilih tetap mencintaimu meski pada akhirnya nanti yang kuterima bukanlah bahagia.

Banyak cara agar membuatmu dapat mengerti tentang rasa yang menggerogotiku ini. Tetapi selalu diam lah cara terbaik yang aku pilih. Menyayangimu dalam kebisuan, adalah kesakitan yang tak membutuhkan dokter. Walau separuh diriku menjadi hambar, sebisa mungkin kunikmati apapun yang masih mampu melengkungkan tawa. Dan tawamu, obat terbaik yang menetralisir setiap jiwa kosong karena racun yang setiap detiknya membuatku semakin sakit karena tak dicintaimu.

Merelakan kau disekap dalam banyak hati, mengikhlaskan bila tak hanya aku yang ternyata diam-diam menggilai, dan hal sakit lain yang tak perlu dirayakan sebagaimana dangkal-dalamnya rasa yang nisbi. Itulah jawaban dari setiap mengapa yang terus disudutkan oleh perasaan. Ialah alasan dari perjuangan berat yang mengatasnamakan bertahan.

Hingga detik aku menuliskan kalimat ini, tak seorang pun mengira bahwa kepada engkaulah malam-malamku menyemai banyak warna. Indah. Ya, cinta itu indah. Bagi mereka yang ikhlas, tidak ada keberatan di dalam menyerahkan rasa—terdalam sekali pun. Apapun hasil yang kan dipanen, cinta yang tulus tetap menanamkan perasaan terbaiknya.

Bila memang itu berlaku bagi setulus jiwa yang menyayangimu ini. Biarkan aku tetap di dalam sikap diamku sebagai pengungkapan termanis yang pernah kupersembahkan.

"Berapa banyak pun wanita yang mencintaimu, tak kan sampai pada seberapa dalam engkau kucintai."


Yogyakarta, Agustus 2015.

Comments

Post a Comment

Popular Posts