Penjara yang Indah

Membingungkan, hendak dari mana aku mengawali.

Ini tidaklah penting, tetapi menahannya hatiku berat.

Entah kesalahan siapa sehingga aku bisa terjebak di sini, di penjara yang tak membebaskan langkahku ke mana pergi.

Atas semua perasaan yang aku jaga, aku mengorbankan perasaanku sendiri.

Aku tidak lantas mutlak muak terpendam di segunung sesal yang tak pantas disesali.

Aku hanya butuh sesekali menemukan napasku yang hilang, ke tempat di mana seharusnya aku pulang.

Bagi mereka yang sabar, keluhku seakan tak berarti.

Semua ini terlalu kulebih-lebihkan.

Di dalam curam aku seperti tak menemukan syukur.

Seharusnya tak kunamakannya sesal, sehingga di dalam kesesakannya pun aku masih tak merasa sial.

Waktu mengunciku sementara di tempat yang tak kusuka, barangkali ia sedikit memukulku demi aku menyadari betapa ini tak pernah sia-sia. 

Tetapi aku terburu ingin berlari, padahal langkahku masih jauh dari kesepian yang mungkin saja membuatku bisa jatuh sendiri.

Di sini aku mengerti, akan ada akhir dari gelisah yang dalam pikirku justru takkan berakhir. 

Sampai kapan aku takut menerka angka-angka kalender, sekiranya tak sampai pada kertas kalender menggulung janjinya untuk lebih cepat berganti.

Resahku tak lantas beristirahat sampai di situ, tetap selalu ada rasa salah yang membuntuti setiap inci jejakku.

Sesungguhnya ini tempat yang penuh kebebasan.

Sebab di sini aku disuguhkan banyak pilihan.

Menjadi bahagia, atau terus hanyut dalam sungai penuh derita.

Kesemua itu aku berhak memilih.

Namun sebuah rasa yang mengatasnamakan sesal menyeretku untuk jatuh di kedalamannya.

Aku harus bangkit.

Aku tak ingin menjadi beban bagi perjalananku.

Karena keyakinan akan celah yang cerah begitu menguatkan, aku memilih menjadi sabar atas ketidaknyamanan yang semoga tak akan lama.

Suatu nanti, jalan panjang ini menemukan pintunya, ialah pagar yang membutuhkan kesiapan untuk menggesernya, sehingga darinya aku dapat melewati duri, lalu berjalan atau bahkan berlari untuk temukan makna dari hidup yang penuh tanya ini.




Yogyakarta, Juli 2015.

Comments

Popular Posts