Persimpangan Patah Hati

Source: tumblr


Hampir seminggu sudah kami bersua, setelah libur cukup lama yang menjadikan rinduku padanya berjeda.

Jujur, selama aku tak bertemu dengannya, tak pernah terjadi gejolak apa-apa; sepertinya merinduinya, itu hampir tak pernah. Aku berpikir, ini hal biasa, sebab aku tiada menyukainya.

Sampai pada ketika hari di mana kita harus berpapasan kembali, semua yang kulihat darinya masih biasa saja. Atau, aku sedang berbohong, karena ketika aku melihatnya, aku bagaikan sedang menyembunyikan sesuatu.

Ada hal yang rasanya sama, seperti memutar kembali waktu ketika sebelum libur panjang tiba, ialah hari-hari di mana memikirkannya adalah kegiatan yang menjadi rutin di tiap malam.

Selain itu, di sela bising teman-teman kami dalam ruang kelas, aku pasti selalu menyempatkan memandang senyumnya. Itulah yang kerap kulakukan pada akhir-akhir hari sebelum perpisahan singkat menyeret jauh namanya dari pikiranku.

Dan kini, aku mesti menerima akibat dari kebohongan itu; menyembunyikan kenyataan dengan selalu mengatakan pada diri sendiri bahwa dia bukan siapa-siapa ataupun apa-apa di dalam hati. Padahal sesungguhnya, diam-diam aku telah menempatkannya di satu ruang istimewa di dalam sini; dada kiri.

Barangkali inilah mula dari patah hati yang harus kunikmati. Dapat memilikinya bukan lagi suatu harapan, itu sama saja aku merencanakan kehancuran yang jauh-jauh waktu terus kuhindari.

Perasaanku masih saja enggan mengakui bahwa kepadanya debarku bukan lagi getar biasa. Bahkan kepada diriku sendiri, aku belum cukup siap mengatakan bahwa pada dirinyalah cintaku telah jatuh. 

Aku tahu aku berbohong. Mana mungkin api cemburu dapat menyala tanpa adanya cinta sebagai pemantik? Mana pula aku merasa kecewa ketika dia berbicara padaku dengan nada yang serupa saat ia berbicara pada teman lelakinya?

Sudahlah. Aku mengaku. Dia dalam hatiku adalah penguasa baru. Aku cukup menyerah, karena sebelum benar-benar kuakui aku cinta padanya aku telah merasa patah. Tapi bukan cinta namanya jika aku lantas berpasrah kalah. Dan sekaranglah, perjalanan terjal menuju hatinya hendak kumulai dalam langkah.

Dalam perantauan baru ini, aku terbata menyusuri kilometer puncak tertinggi bernama hati. Dengan sekepal harapan semoga masih ada celah sehingdalemga aku bisa menempatkan diri dan cintaku, di sana. Namun sebuah persimpangan panjang menodongku dengan selaksa bimbang.

Benarkah aku tersesat? Semua tanya yang menghantamku bergantian akan terjawab dalam kalimat ini:

"Dirinya telah mengajarkanku bahwa seperti inilah rasanya patah hati sebelum sempat mencintai."

Persetan dengan nyali ini! Bagaimana mungkin aku bisa menjadi sangat mahir dalam hal merahasiakan secuil nikmat bernama patah hati!




Yogyakarta, Agustus 2015.

Comments

Popular Posts