Seandainya Kita Saling Menemukan
Malam hari pada ketika deras hujan. Langkahku teramat berat, sebab seluruh tubuh memikul rindu yang kepadamu saja ia beralamat.
Meski tak pernah kaudengar rindu punya mata, tetapi ia tahu ke mana harus pulang, tetapi ia benar meruntut arah jalan.
Sayang, percayalah. Walau hujan menghapus bintang, apapun tak kubiarkan menghapus engkau dari ceritaku. Aku ingin kau terus hadir di sampingku, tak peduli langit muram atau tetap menampilkan bintang. Sebab semuanya sama, tanpa adanya kamu di sini.
Namun sekarang aku harus sedikit kecewa, karena malam ini kau tak dapat kupeluk, sekiranya ini tak menjadi hari terburuk.
Menghabiskan waktu tanpamu, bagaikan menenggak kopi terpahit. Aku tinggallah cangkir yang berdenting sendirian. Tak di sininya kamu, semenderita inilah aku disekap sepi.
Kumohon, walau di pelukku kini kau tak mungkin, berbaik-baiklah kau tanpaku di sana. Pada suatu malam nanti aku yakin, pertemuan menjadikan sepi mati semati-matinya, sehingga tinggallah kita yang berkuasa.
Sayang, aku ingin bicara banyak padamu. Terutama tentang rindu—yang herannya aku—ia tak pula usai-usai. Apa kau juga selebay ini?
Hujan telah berhenti, justru resahku kini yang menjadi-jadi.
Ingin sekali aku menyibak malam dan membelah satu per satu jarak yang menyembunyikanmu. Jalanan ini telah lengang. Genangan bekas hujan menyeret langkahku memaksa menemukan dirimu di mana.
Sayang.. Mungkin langkah ini tak pernah lebih berat dari rindu yang kaupikulkan di punggungku semenjak aku tak lagi di dekapanmu. Namun ke mana lagi aku harus menyesapi dinginnya dini hari bila sepanjang aspal ini jejakmu tak juga kudapati. Kepada siapa lagi pertanyaan 'sedang di mana kau?' kuteriakkan berkali-kali selain pada lampu-lampu jalan yang tak lelahnya menyemangati pencarianmu yang nihil.
Aku hanya berdoa. Semoga di manapun apabila kau berdiri, kau tak selelah pencarian ini. Apabila kau tengah terlelap mengukir mimpi, kau tak akan diusik rasa khawatir seperti aku yang mencemaskanmu tak hentinya menahan getir. Atau bila kebetulan kau sedang ingat diriku, jangan cemas, aku baik-baik saja. Atau mungkin bila rindumu lupa jalan pulang, dengan senang hati dan tak pernah merasa keberatan aku yang akan menjemputmu.
Sayang, aku yakin kau tak hendak pergi lama. Kau mungkin tak akan kutemukan, dan aku pula tak dapat kautemukan. Tetapi kompas dalam magnet cinta kita yang saling akan menemukan.
Kau mungkin saja dapat pergi jauh. Tetapi kau tak mungkin bisa merasa jauh. Jarak itu hanyalah agar aku dan kau diberi kesempatan untuk bisa saling memandang, dan pula jeda dari sebuah pelukan yang panjang.
Jambi-Yogyakarta, Juli-Agustus 2015.
Comments
Post a Comment