Seseorangku

Selamat malam, kepada semua mata yang telah mengatup dan teruntuk kamu paling istimewa yang hatinya juga masih tertutup. Dini hari, menuju pukul satu, bayang wajahmu bertamu di pikiranku.

Bukan hal baru, kupersilakan saja senyummu menggangguku yang bersiap lelap. Aku menikmatinya, walau karenanya aku menghabiskan sedikit waktu istirahat.

Aku menyukainya, sungging bibir yang tadi sore jelas kulihat. Sekarang telah pagi, dan kau datang membawa dialog penuh arti. Memberiku kesempatan untuk menjawab pun kau tak sudi. Kau terus saja menghatamku dengan tanya yang tak aku mengerti. Coba saja segala resahku ini pandai bicara, mungkin tak sampai bayangmu pagi-pagi sekali tiba.

Sore tadi, jantungku kau buat bergemuruh, ketika aku datang dan kau duduk dengan tenang. Hal apalagi yang lebih porak poranda dari tubuh seorang wanita—lebih tepatnya bagian hati—saat melihat lelaki yang dikagumi telah ada berdiri menghadang mata—walau pada ketika itu jarak tubuh mereka masihlah jauh.

Aku duduk dengan gemetar, bukan di sampingmu, atau di posisi yang memudahkanku merangkul bahumu. Bukan. Aku duduk jauh di belakang, sehingga segala getarku tak mungkin bisa kaupandang. Sebisaku tak menoleh ke arah tubuhmu ada. Mustahil. Tentu saja aku tak bisa. Ingin sekali tubuhmu kupeluk, namun hanya pada punggungmu yang terlihat dari pelupuk.

Aku ingin memerintahkan kau pergi dari hatiku, namun di dalamnya kau telah menjadi penguasa. Aku tinggallah budak yang dipaksa serahkan seluruh rasa. Dan hanya padamu aku menyerahkannya.

Kenapa aku jatuh cinta pada kedua bola matamu, padahal belum pernah sekali pun kulihat kau menatapku. Belum pernah rasanya kita beradu temu. Selalu aku yang mencuri-curi celah demi memandang wajahmu yang indah. Tetapi kau telah menjadi candu, atas semua rindu yang padamu segalanya tertumpu.

Hei, Kekasih. Bukan, kau bukan kekasihku. Siapapun kau dalam hidupku, kau telah menjadi "seseorangku". Kau akan menjadi rahasia terdalam, yang hanya oleh kebisuan semua ini terjelaskan.

Kautahu bintang itu indah, sebab malam ada untuknya. Dan aku ada di sini, tak lain ingin menjadi ada untukmu. Kau bukan bintang, sebab di mataku kau tentu lebih indah. Dan ingatlah, aku tak ingin menjadi sekadar malam. Aku ingin hidup untuk menguatkanmu, aku ingin hidup untuk membangkitkanmu. 




Yogyakarta, Juli 2015.

Comments

Popular Posts