Di Antara Daun Gugur
Waktu adalah perjalanan bagi aku untuk menemukanmu. Menjemputmu kembali
sudah menjadi keharusan yang tak mungkin aku bantah. Menciptakan kita
lagi, seperti menenun kisah yang sudah terkoyak-koyak oleh ketiadaan.
Tapi aku tidak merelakanmu hilang, kamu masih tersimpan rapi di hati dan
ingatan. Mungkin memang di kedua ruang itulah dirimu aman. Sebab tidak
sebentar aku mencintaimu, kamu telah membuatku menjadi bukan aku bila
tanpamu.
Pengelanaan terjauhku adalah kehilanganmu. Maksudku, aku
tak mungkin bisa mengembara di belantara antah berantah, aku hanya
merasa jauh jika tidak di sampingmu saja. Kilometer membentang bukan
perkara apa-apa. Aku masih aku bila kamu belum berhenti mencintai. Aku
masih baik-baik saja bila jatuh cintamu masih kepadaku dialamatkan.
Dan
bersamamu, kesunyian seperti tak sudi menampakkan diri. Kau tak hanya
mahir meringkus sepi, kau ahli dalam mengemas luka dan menendang jauh ia
bersama kawanannya. Sebab itu, berdua denganmu aku bukan hanya merasa
pulang, tetapi menemukan sedamai-damainya rumah. Seperti saat kita
bahagia atau kesedihan tak sengaja memang mesti tiba, aku tetap hangat
dan teduh di pelukanmu. Seperti ketika kita berjalan di antara daun
gugur, rupanya bukan kau saja yang pandai memahat kedamaian, musim pun
mencintai kita dengan menggugurkan kesedihan.
Aku masih ingat
saat kau menjawab sebuah tanya. Di mana tempat paling romantis? Di
antara daun gugur, katamu. Sejauh kau mengenaliku, tentu menyadari
betapa aku setuju dengan jawaban itu.
Aku ingat bagaimana angin
meniup wajahmu sore itu. Ranting-ranting paham apa yang mesti ia
kerjakan. Ialah menggugurhabiskan kenangan pahit yang di dalam kepalamu
selalu kau paksa pergi. Tugasku adalah menyembuhkan lukamu dan
menggantinya dengan kisah baru. Barangkali bukan tugasku saja, melainkan
aku dan kamu. Kita, saling menjadi penawar bagi masa lalu
masing-masing.
Denganmu, aku merasa tidak sedang dalam masa
penyembuhan hati. Denganmu, aku merasa sebelumnya tak pernah ada yang
dilukai. Satu per satu kisah merangkai alinea yang menjadikan kita lupa
bagaimana pedihnya patah hati. Bagaimana pun, sungguh, denganmu, aku
ingin baik-baik saja.
Kamu ingat lagu yang sering kita dengarkan
dulu? Aku yakin kamu tidak lupa, dan bahkan masih sering
memutarnya—seperti aku. Bahkan ketika kutulis kalimat ini, tepat pukul
sebelas malam, aku sedang mendengarnya. Memang, bukan kamu orang pertama
yang mengisi kisahnya. Orang lain telah lebih dulu mematahkan hatiku.
Aku tidak ingin membencinya, sebab tak kucintai lagi ia. Apakah harus
kusisipkan tentang bagaimana hatiku pernah sangat hancur dibuatnya?
Berbelas-belas
bulan sebelum kepadamu aku memuarakan hati. Sebelum akhirnya kubawa
menujumu lebam di dada kiri. Ialah hari-hari yang penuh pukulan nyeri.
Ia tidak berdarah, tapi sakit sekali. Dan—sudah kukatakan—kita adalah
penawar bagi masa lalu masing-masing. Hingga bertemu kamu, segala duka
tak berarti apa-apa.
Di antara daun gugur. Aku ingin bersamamu
lebih lama, dari detik yang merangkai menit, waktu ke waktu, sampai pada
hari yang tak lagi tertulis di kalender.
Ditulis dalam keadaan jatuh cinta. Mendengarkan lagu kesukaanmu.

Comments
Post a Comment