Pagi Selalu Sederhana, Mencintaimu yang Rumit

aku suka pagi.
ia menyediakan apa pun,
termasuk sebuah cara,
untuk mengenangmu
lebih lama.
ada hal-hal
yang sulit dimengerti,
seperti hujan turun tiba-tiba.
kemudian,
aku rindu kau begitu saja.

dan aku,
tidak begitu suka
hujan yang memilih jatuh di pagi hari.
tubuhku menjadi berat,
membuat malas tumbuh berkali-kali lipat.
yang mungkin kukerjakan,
hanya merawat kerinduan.
sesuatu yang sebenarnya tak perlu.

aku dan hatiku,
sepakat untuk jatuh cinta,
sebuah keegoisan yang kuperjuangkan
untuk kau saja.
tetapi,
konsekuensi masih berlaku,
sekalipun untuk urusan
perasaan yang belum disahkan peraturan.
ialah:
tidak ada jatuh cinta,
tanpa menanggung rindu setelahnya.


pagi selalu sederhana:
kicau burung
atau embus angin lewat jendela
yang setengah terbuka.
sunyi,
dan mendamaikan.
kecuali pagi pada minggu,
karena ketika kubuka mata,
bukan lagi hal-hal mendamaikan sebagai penyambutan,
melainkan setumpuk cucian.
tetapi, pagi semestinya selalu sederhana.

ke arah matahari
yang sebentar lagi terbit,
aku menerka sesuatu.
hujan belum akan datang.
barangkali,
pagi menjadi lebih sederhana.

dan barangkali,
akan begitu sederhana.
sebab sampai sejauh kalimat ini,
belum kutulis sebuah kata: cinta.
apakah serumit itu mencintaimu?
keluarlah di pagi yang masih menyediakan embun,
tutup matamu dan jatuh cintalah.
seseorang akan memberitahumu,
serumit apa mencintai itu.

aku hampir melupakan sesuatu.
bahwa selain mencintai,
beberapa hal memang semestinya rumit.
seperti katamu:
mungkin, di masa putih abu-abu,
serumit kotak susu yang sedang tumpah.

dan mencintaimu,
hanya sepotong kisah
dari serangkaian masa bernama
putih abu-abu.
semoga,
kuingat kau
sebagai sesuatu yang akan menjadi lama,
yang akan lebih tua dari kesedihan kita.

pagi selalu sederhana.
dan mencintai tak benar-benar rumit.
mencintaimu pun sederhana,
rasa ingin memiliki-lah yang membuatnya rumit.
namun, keinginan memiliki pun sederhana.
takut kehilangan
yang menjadikan ia demikian rumit.
sebab aku mencintaimu,
sepaket dengan rasa takut,
dari kehilangan yang sewaktu-waktu.
maka biarlah,
aku merumitkan diri.
mencintaimu, aku tak ingin tau lebih dalam
tentang arti sebuah sesal.




Solo, Desember 2015.

Comments

Popular Posts