Sebuah Sore
di sore yang gerimis,
aku mendengar sebuah kehilangan,
seperti musim hujan,
yang kehabisan ruang untuk memulangkan ingatan.
telah kutemukan hari,
di mana dua puluh empat jamnya,
adalah waktu-waktu
yang mungkin untuk menyakiti diri,
dengan cara merindukan.
aku seseorang yang telah dipilih sunyi,
untuk diam,
dan merenungkan:
bagaimana seharusnya
perpisahan yang sedikit saja rasa sakitnya.
gerimis
pukul empat sore,
sesuatu mengetuk kenangan, yang tak berpintu.
tentang sebuah tempat,
yang kausebut
masa lalu.
ketika kita,
menghabiskan jam-jam yang belum berhenti berputar,
saat arloji berseru:
sesuatu akan
kumakamkan di mata indahmu; senja.
aku ingin menjadi air mata, katamu.
kau belum sanggup
melihat kesedihan,
terutama hal-hal yang lahir,
dari sepasang hujan di mataku.
sebab aku ingin menjadi air mata, katamu
sekali lagi.
sehingga tak kaubiarkan
aku menangis,
aku berduka,
atau bersedih,
sendirian.
kita adalah sepasang kefanaan,
yang menghindari hari,
pada suatu nanti
kau dan aku,
tak lagi saling menemukan.
ialah hari-hari
yang terus-menerus
menjadi
ukuran waktu begitu panjang,
yang kerap mereka sebut
sebagai
selamanya.
dan kita ingin
berdua,
lebih lama,
beberapa detik saja
dari selamanya.
Untuk seseorang,
Solo, Desember 2015.
aku mendengar sebuah kehilangan,
seperti musim hujan,
yang kehabisan ruang untuk memulangkan ingatan.
telah kutemukan hari,
di mana dua puluh empat jamnya,
adalah waktu-waktu
yang mungkin untuk menyakiti diri,
dengan cara merindukan.
aku seseorang yang telah dipilih sunyi,
untuk diam,
dan merenungkan:
bagaimana seharusnya
perpisahan yang sedikit saja rasa sakitnya.
gerimis
pukul empat sore,
sesuatu mengetuk kenangan, yang tak berpintu.
tentang sebuah tempat,
yang kausebut
masa lalu.
ketika kita,
menghabiskan jam-jam yang belum berhenti berputar,
saat arloji berseru:
sesuatu akan
kumakamkan di mata indahmu; senja.
aku ingin menjadi air mata, katamu.
kau belum sanggup
melihat kesedihan,
terutama hal-hal yang lahir,
dari sepasang hujan di mataku.
sebab aku ingin menjadi air mata, katamu
sekali lagi.
sehingga tak kaubiarkan
aku menangis,
aku berduka,
atau bersedih,
sendirian.
kita adalah sepasang kefanaan,
yang menghindari hari,
pada suatu nanti
kau dan aku,
tak lagi saling menemukan.
ialah hari-hari
yang terus-menerus
menjadi
ukuran waktu begitu panjang,
yang kerap mereka sebut
sebagai
selamanya.
dan kita ingin
berdua,
lebih lama,
beberapa detik saja
dari selamanya.
Untuk seseorang,
Solo, Desember 2015.
Comments
Post a Comment