Tentang Rindu
Aku ingin menampar wajahmu sekeras-kerasnya. Betapa sakit dan memarnya mungkin tak sebanding dengan rindu yang kamu sebabkan.
Di
kotaku rindu melesat lebih cepat. Menyesap ke bawah atap-atap, di mana
hujan dijatuhkan dengan khidmat. Barangkali merindukanmu semacam itu.
Rindu ialah anak kecil nakal yang tak mau tahu. Aku bisa apa?
Membujuknya tenang hanyalah kesia-siaan. Sedangkan pertemuan adalah
permen cokelat yang tak henti-henti direngeknya supaya diam. Saat ini
juga, aku hanya ingin kamu. Pada sepasang lenganmu aku hendak marah.
Mengapa ia tak bisa sesegera mungkin ada ketika aku merasa lelah. Namun
merindukanmu aku tak mau seegois itu. Aku hanya ingin kamu. Terlepas
dari segala senyumannya, pelukannya, ciumannya, kekesalannya, dan
semuanya. Aku rindu. Dan ingin kamu saja.
Mungkin ini terdengar
klise, tetapi memang seperti ini adanya. Rindu yang menyulitkan mata
terpejam. Sebetulnya tidak begitu. Bukankah rindu itu sederhana? Rasa
ingin bertemu-lah yang membuatnya rumit. Dan kamu tahu? Aku hampir setiap
malam merumitkan diri sendiri, dengan merindukanmu.
Padahal,
setiap hari kita bertemu, setiap hari pula aku menyiksa diri dengan cara
yang sama. Aku merasa rindu bukan tentang seberapa lama kita tak
bersua. Bahkan ketika kupeluk kamu dengan erat sekali pun, aku
masih sering tak menemukanmu.
Ini menyebalkan. Lebih menyebalkan
dari kamu terlambat datang menepati pertemuan. Bodohnya, aku tetap
memaafkan. Mungkin tepatnya, rindukulah yang selalu memaklumi. Terlebih
kamulah, samudra maaf yang tak pernah dahaga.
Bila belati
menancap dadaku, maka sakit. Namun, jika kamu tetap mencabutnya, itu
pasti lebih nyeri. Tetapi apakah kamu akan berdiam diri dan menikmati
aku yang terseok-seok? Tidak mungkin. Dan rindu seperti apa saja.
Menjadi apa saja. Menjelma waktu, yang katamu kamu rindu waktu kita
sedang di sini, di sana, begini, begitu. Kamu rindu aku, dan waktunya.
Tapi untukku, cukup kamu—dan segala kisahnya.
Malam adalah
pangkal dari kesunyian-kesunyian yang tak butuh alasan. Sepi dan resah
masih karib terbaik. Terkadang, mencemaskanmu sudah menjadi kebutuhanku.
Untuk terus bisa menghadirkanmu, aku hanya butuh menghidupkan malam.
Menjadikan semeriah mungkin, atau justru senyap yang paling lengang.
Sampai mampu kau dengar, tetes-tetes penyesalanku. Ialah, mengapa tak
kudekap kamu lebih lama, atau bila mungkin tak perlu kulepas saja. Agar
tidak pernah ada, raung-raung yang meneriakkan namamu lagi, di dada ini.
Sebab tak pernah ada jatuh cinta tanpa menanggung rindu setelahnya.
Aku
menulis ini tidak lebih hanya untuk mengatakan bahwa aku sangat
merindukanmu, dan sekiranya kau baik-baik saja, entah mengapa aku tak
ingin kau kenapa-kenapa.
Yogyakarta, November 2015.
Comments
Post a Comment