Surat #2
kepada seseorang yang lekat dalam kepalaku.
yogyakarta, 11 januari 2016.
perlukah kuucapkan selamat malam terlebih dahulu sebab hari ini kegelapan begitu indah? mungkin bukan itu yang kaucari, naviel. aku (harus) terbiasa tanpa kau, dan kau terlampau biasa saja tanpa jatuh cinta. entahlah, tetapi aku rindu kau, seperti gelap yang sudah-sudah. semacam aku mesti merawat kedukaan dalam sepinya tubuh malam. tanpa kau, naviel. malam jadi seolah tidak becus menyelesaikan tugasnya. kita, sudah terlalu mudah terganti oleh banyaknya ketiadaan yang mengabur sia-sia. seperti berjalan di bulan, aku yang tanpa kau, naviel, segalanya jadi tak mudah dipastikan.
barangkali, akulah seseorang yang jatuh cinta pada kau berkali-kali. jangan kau bertanya lagi, sebab itu akan menyinggung perasaan aku. aku sudah mencintai apa pun yang kautulis, terlepas dari mana saja ia kauperoleh. sebab aku jatuh cinta pada kau, naviel. dan sesekali aku ingin menjelma angin di suatu malam yang menyelinap lewat jendela kamar yang masih kaubiarkan setengah terbuka. sesekali aku ingin menyatu dengan napas kau biar tiada lagi depa-depa menapak merangkai jarak. aku ingin jadi yang pertama mendengar desahan dari jantung kau sebelum padam. betapa aku ingin, dan itu mengapa aku menempatkan rindu-rindu di saku kemeja biru tua milik kau, agar selalu dapat aku dengar, letupan kecil serta debar yang tak semestinya hilang begitu saja.
sebelas januari dan aku memutuskan menutup buku yang kubaca untuk menulis surat ini. sebab aku rindu kau dan aku tak banyak tahu cara merindukan tanpa memikirkan.
pada akhirnya, selamat menikmati malam, dan memejamlah tak terlalu larut.
yang merindukan kau.
Comments
Post a Comment