Di dalam Hatimu Aku Ingin Terjebak


Kau menatapku sekali lagi. Selama beberapa bulan terakhir aku dekat denganmu, tak kulihat matamu seresah ini. Membuat aku ingin sekali memelukmu. Karena aku yakin, pelukan adalah satu-satunya yang paling kaubutuhkan di saat-saat seperti ini. Kita mematung berbelas-belas menit. Belum kutemukan kalimat yang tepat untuk lebih menenangkanmu.

"Jadi bagaimana?" kau kembali memecah jeda.

Sungguh. Aku hanya ingin memelukmu sekarang juga, sebagai jawaban atas semua pertanyaanmu yang sedari tadi kaujejalkan padaku. Pikiran-pikiran buruk di kepalaku telah mengunci suaraku. Aku hendak mengatakan bahwa aku memilih untuk mencintaimu saja. Dan tetap bersamamu, menjaga ketakutanmu, juga mengemas dan membuang jauh resahmu.

Ah, andai saja beberapa bulan lalu aku tak terjebak cinta di hatimu, mungkin masalah ini tak pernah ada. Tetapi betapa aku akan sangat menyesal jika masalah ini tak pernah terjadi, sebab mungkin aku tidak bisa sedekat ini denganmu.

Aku telah berjanji pada diriku, akan tetap bersamamu sekalipun tak seorang pun memercayaimu lagi. Sebenarnya bukan semua orang, hanya beberapa mereka yang memang membencimu. Yang aku tak paham, apa tidak ada alasan lain mereka bersekongkol untuk berlaku tak senang padamu dengan bersamanya kita sebagai alasannya. Mungkin mereka, maksudku mantan kekasihku, yang membuat hal ini harus kusebut sebagai masalah. Semestinya tidak selarut ini. Dan, aku bisa bersamamu dengan mudah.

Kau pun tahu, seseorang di masa laluku masih sangat mengharap aku untuk kembali ke pelukannya. Itu yang kurasa membuat ia terus menunjukkan sikap tidak menyukaimu. Terlebih, sebelum akhirnya dia memutuskan hubungan kami, kau sempat membakar api amarahnya. Dia cemburu. Kau terlalu dekat denganku. Sebenarnya, aku tak pernah berniat mendua. Aku berusaha tetap setia pada kekasihku—dulu. Tetapi sikapnya yang membuat aku bosan. Segala pengekangannya padaku, membuat aku tak menemukan diriku. Aku pria yang benci dikekang. Aku memang mencintainya—dulu, tapi tidak dengan sejuta aturannya.

Dan bersamamu, bukan pula pelarian atas kekesalanku pada wanita yang sudah mulai pudar di ingatanku itu. Bermula dari kebersamaan yang wajar, sampai beberapa orang mengira kita lebih dari sebatas teman. Sesuatu yang belum terkata, bahwa aku ingin lebih dari memilikimu. Tetapi, bagimu, sepertinya ini lebih dari cukup. Aku tahu kau pandai, tetapi untuk membaca hatiku aku yakin kau tak pernah mahir.

"Ya udah sih, nggak perlu dipikirin. Kamu takut sama dia? Haha.." aku tertawa kecut, berusaha menyamarkan kecemasan ini. Aku tahu kau tak gentar pada siapa pun, apalagi jika hanya berhadapan dengan mantan kekasihku itu. Tetapi aku yakin kau masih melibatkan hatimu dalam bertindak, sehingga kemungkinan kau akan mengorbankan perasaanmu karena ada perasaan seseorang yang kaujaga pula. Entahlah.

Barangkali tidak ada yang banyak berubah pada akhirnya. Tanpa kau sadari aku mencintaimu. Dan aku pula tak pernah sadar, bahwa kepadaku kau memang tak pernah cinta. Tetapi semestinya cinta memang tak butuh banyak pengetahuan tentang arti sebuah penyesalan. Dan tentu saja, paham itu yang tengah bekerja di hatiku. Barangkali kerumitan ini telah menjebak kita dalam sebuah masalah. Namun di dalam ruang hatimu saja, aku ingin terjebak lebih lama.




Tulisan untuk sahabatku, K, yang kisah cintanya sedang rumit.

Comments

Post a Comment

Popular Posts