Surat #3
kepada seseorang yang hatinya baru saja patah.
yogyakarta, 12 januari 2016.
terpujilah
cinta, yang sepaket dengan indahnya perasaan-perasaan berbalut luka.
teori—atau lebih tepatnya penabah hati—yang aku tunjukkan baru saja pada
diri aku sendiri sebagai orang yang sedang menyeka lara, dan sedikit
berhasil menenangkan betapa kacau hati aku sekarang ini juga.
aku
sayangi kau, juga menurut aku kau pun sayangi ia. ketika ada hati yang
jatuh, maka bersiaplah akhirnya akan ada pula hal sama yang patah.
aku
cintai kau dengan setinggi-tingginya ego, dan tidak sempat belajar
apabila jatuh cinta harus menyertakan kesiapan kecewa. aku sangat egois,
hanya ingin mencintai, dan itu kepada kau saja. maka ketahuilah, aku
tak akan mungkin bisa benar-benar rela melepaskan selayaknya bila pernah
kaudengar semestinya cinta yang baik adalah melepaskan.
tidak pernah
ada sesungguhnya perasaan yang rela membiarkan seseorang yang ia cintai
bahagia bersama orang lain selain ia. atau barangkali itu hanya berlaku
pada aku yang amat tak pandai mengendalikan ego.
kabar buruk
bagai petir yang menyambar-nyambar di cuaca yang terlalu terik. aku,
jujur saja, bukan orang yang mahir menahan kesedihannya sekejap saja.
betapa kabar buruk selalu langsung aku telan habis, sampai di
kerongkongan aku getir jadi tak sudah-sudah.
ada cuaca lain yang sukar
diramalkan di dada aku, di kesunyian ruang biasanya nama kau diembuskan
dengan lembut. bahwa memang baru saja aku ditampar oleh kenyataan: kau
tak pernah dilahirkan untuk aku. tetapi cinta aku terlanjur tumbuh
semakin besar untuk engkau.
dan memang sebaiknya hati ini patah saja, agar tak ada lagi perasaan-perasaan yang amat lancang tumbuh bila itu hanya untuk kau.
Comments
Post a Comment