Surat #4
kepada seseorang yang (mungkin) sedang menutup telinganya dengan earphone.
yogyakarta, 23 januari 2016.
bisa
kau dengar suara aku? maksud aku, lepaskan dulu earphone yang menyumpal
telinga kau itu. tetapi, sebentar, bukankah cinta adalah suara hati?
dan kau memang semestinya tuli? entahlah. tetapi untuk malam ini aku
minta kau dengarkan aku sebentar. atau luangkan sedikit malam kau untuk
membaca surat aku sejenak.
sekali lagi, apa kau dengar sesuatu? mungkin semacam debar yang amat berantakan, apa kau mendengarnya? tentu saja, tidak mungkin. sebab hanya dalam puisi-puisi sedih orang-orang
bisa mendengar degub jantungnya sendiri. dan aku, dada yang disesaki
oleh sebuah nama, nama yang kerap kauucapkan ketika orang-orang pertama
kali mengajak kau berkenalan.
sudah lama aku memasang telinga aku
baik-baik. sebab kita tidak pernah berbincang, maka aku ingin dengar
suara kau lewat obrolan kau dengan orang-orang. aku tidak mengapa
demikian, aku cuma ingin merekam suara yang aku cintai juga yang jarang
sekali aku dengar itu, di dalam kepala aku. mungkin bila suatu nanti
bola mata tak dapat memecah sedikit pun rasa rindu, aku dapat memutar
suara kau sekali lagi.
bahwa selain menatap, ada cara lain kau
dapat menyadari betapa air mata adalah kesedihan-kesedihan yang tak bisa
menyelamatkan dirinya sendiri. serang kali ia berpayah-payah memohon
kepada kau. namun kau seorang yang memilih tuli dari beberapa suara
retak yang bermuasal di hati.
sebab itu, lepaskanlah sebentar earphone kau, dan dengarkanlah mereka.
Comments
Post a Comment