Hari Ketika Senja Tak Lagi Terbenam di Barat
Dari rambutmu, aku melihat sungai berkelok jatuh menebar riris di seberang awan setengah kelabu membelalak pukul tiga sore.
Aku bunga-bunga hutan, menggantung pada pucuk ranting yang memaksa gugur mendahului waktu supaya hanyut selamanya di sungaimu.
Barangkali
ini pelayaran panjang yang tak perlu hilir dan hulu, di sungaimu
dahagaku tak sekali-kali melawan keras arus sebab sungaimu tak pernah
terlambat menjamuku.
Dari bibirmu, aku temukan dermaga kecil untuk menambatkan ciuman-ciumanku yang hilang, sedang belasan burung gereja berduyun-duyun ke altar membawa sekerat isyarat: sekarang waktu berdentang di empat sore.
Dari bibirmu, aku temukan dermaga kecil untuk menambatkan ciuman-ciumanku yang hilang, sedang belasan burung gereja berduyun-duyun ke altar membawa sekerat isyarat: sekarang waktu berdentang di empat sore.
Aku masih ingin tenggelam hanya di bibirmu
hari ini, memahat kecupan-kecupan di penghabisan waktu yang menjelang
petang dan hilang.
Aku ingin kaukecup lebih dulu dari kata-kata yang kaukecap, di bibirmu namaku sempat sedikit gemetar saat kauucap.
Dari matamu: sungai dan desau angin mana pun yang mengalir akan terlahir dan sampai, di ruang percakapan lengang yang menyimpan seribu hujan, juga seorang pengelana yang melupakan jalan pulang—di tangannya terikat arloji sudah menuding angka lima sore.
Dari matamu: sungai dan desau angin mana pun yang mengalir akan terlahir dan sampai, di ruang percakapan lengang yang menyimpan seribu hujan, juga seorang pengelana yang melupakan jalan pulang—di tangannya terikat arloji sudah menuding angka lima sore.
Ingatlah pada sebuah hari, mata picik waktu akan menukik di serpih dadamu, terkoyak nestapa meracau dan memburu.
Aku terhenyak membaca surat kabar: katanya matahari terbit dari timur lalu mengubur diri di arah berlawanan.
Sementara dalam diriku tak satu pun waktu dan mana pun tempat pernah melihat senja terbenam di langit barat.
Aku
memahami dan memang semestinya di mataku ini sudah lama terjadi:
selamanya, sampai suatu hari yang entah, senja akan tenggelam hanya di dua bola
matamu.
Jogja, 2016.
Jogja, 2016.
Comments
Post a Comment