Puisi yang Ditulis Ketika Latihan UNAS, Seusai Patah Hati
Seseorang perempuan menulis kesedihan di sayup matanya, di lembar dekat soal ujian, di kesunyian.
Ketika orang-orang hilang dilahap kesibukan.
Ia menyusur kata-kata yang menangis.
Ia menyusur kata-kata yang menangis.
Di bawah jendela yang terbuka sedikit.
Ke luar ia bisa melihat awan putih pukul sebelas berjuntai-juntai jatuh ke dahan sukun dan jarak.
Ia menatap orang-orang dan menemukan nestapa hanya milik ia sendiri.
Ucapan setengah jam lalu datang menukik tepat di jantungnya.
Duka menggantung di rongga dada.
Pekik dentuman gema di lorong waktu, dan sebuah inisial yang memaksa menyudahi perjalanan yang jauh.
Pukulan telak itu datang menuliskan sebuah nama dalam epitaf di dadanya.
Hari ini ia duduk di atas nisan tempat seseorang di dalam hatinya diharuskan mati detik itu juga.
Namun tidak ada air mata yang bisa dipinjam hari ini, sunyi.
Orang di sebelah ia, di depan ia, dan dua pengawas ujian di ujung sana tidak peduli betapa prahara sedang berkuasa di kepalanya.
Orang di sebelah ia, di depan ia, dan dua pengawas ujian di ujung sana tidak peduli betapa prahara sedang berkuasa di kepalanya.
Struktur lewis, kovalen koordinasi, titrasi asam basa, dan semua yang dapat dibaca dalam lembar soal ujian sudah diabaikannya.
Ia menulis amat serius sambil pura-pura berpikir.
Menyetarakan keadaan.
Bahwa kesedihan semestinya tak boleh dirayakan saat ini.
Ia harus seperti orang-orang yang terlebih dahulu melipat air mata mereka di saku seragam batik.
Namun ia tak mahir rupanya.
Jogja, 2016.
"seuasi" ?
ReplyDeletewah, typo. terima kasih koreksinya :)
ReplyDelete