Sekawanan Burung yang Lupa Pulang

rimbun cemara membelah hari menjadi dua musim yang leleh dan beku.
di
petak kecil tanah yang luput dari sinar matahari, lebat daun pepohonan
memayungkan kesepian kita; aku dan pohon waru kecil yang sedari tadi
bersandar di bahuku yang gelisah.
ranting patah tak membawa kabar ke
mana gemetar cakrawala hendak terkapar, pada senyap siang yang semilir
desau angin menggulung ricau camar.
bukit yang basah dan kenangan
masa kecil yang tak pernah memantikkan sesal, seperti penyesalanmu
ketika burung-burung bergegas pergi tanpa meninggalkan pesan apalagi
berpamitan.
kepak kecil mereka mengangkut amarah yang
disembunyi-sembunyikan dari mata kita, tetapi kita melihat dan hati kita
sayangnya sedang tak bekerja.
dengan terus terlelap dan menghitung
jumlah daun waru kering yang terjatuh, tak akan membawa mereka amblas
memutar arah kepada kau dan aku.
antara kita dan angkasa tersedia ruang
membentang, tetapi sekawanan burung yang sudah tak mencintai kita
memilih lupa akan petunjuk pulang.
Jogja, 2016.
suka dengan puisi ini
ReplyDelete