Aku Ingin ke Sebuah Tempat dan Menulis Puisi

Doa yang kaukenali.

Kata-kata luber penuh percuma.

Di hadapan jaring waktu semua harapan merajut takdirnya sendiri.

Semoga apa pun yang membuat kau lebih hadir, menjelma.

Termasuk gumpalan awan putih dari selatan dan dari utara, serta yang terlihat paling tebal dari barat daya itu berenang mengumpul di atas wajahku.

Sebab kaukenali aku pula sebagai pengembara bodoh yang tak pernah bersentuhan dengan kuas dan kanvas, apalagi memintalmu ke dalam sebuah lukisan.

Maka aku membayangkan awan-awan makin belukar merangkai satu per satu tiap sisi wajahmu.

Dan kau boleh membayangkan aku sedang duduk di atas jembatan kecil yang melintasi pengairan irigasi desa kecil yang jauh darimu ini.

Kau anggap saja pengairan ini tegak pada ketinggian dua meter lebih di atas jalanan desa dan petak-petak sawah.

Maka embus angin bukan lagi ungkapan yang bual untuk menyapu tengkukmu, dan yang tak tak hadir di matamu, tersisa bayanganku.

Memejamlah kau dan gambarkan aku di kepalamu sedang berbaring memandang langit biru sambil merindukanmu.



Jogja, Maret 2016.

Comments

  1. Keren kak, caranya pengandaian kedalam puisi dengan bahasa yg puitis gmana kak?

    ReplyDelete
  2. Keren kak, caranya pengandaian kedalam puisi dengan bahasa yg puitis gmana kak?

    ReplyDelete

Post a Comment

Popular Posts