Dermaga Suatu Sore

Di pelabuhan barat itu, langit menandakan hari, sebentar lagi kesedihan
harus dimakamkan.

Air mata jatuh tenggelam menyusul ikan barakuda di tengah lautan.

Dermaga ini enggan berhenti berbenturan dengan kenangan, dan kesepian yang
bawa aku kemari.

Rantai-rantai besi besar-besar menambatkan sejumlah kapal dan menunjukkan
kepada mataku ke arah jalan lain.

Di laut sana kapal tua yang mengangkut kau karam bersama mayat kau.

Hari itu, petir dan mercon diledakkan di hati aku.

Lihat lubang besar di dada ini, disisakan waktu, belum sempat sepasang
lengan menjemputmu.

Kau mati lebih dulu dan, nama kau tertinggal dalam air mataku.

Pukul lima sore, sebuah jangkar karatan dijatuhkan entah buat apa.

Aku tak mau tahu lebih banyak.

Aku cuma menunggu kapal kau pulang utuh dari arah selatan dengan, lampu
warna-warni yang membentuk nama aku seperti janji kau hari itu.

Tetapi seseorang menjatuhkan jangkar sekali lagi hingga, dasar laut tepi
dermaga ini bergema juga, hati aku pun demikian.




Yogyakarta, Januari 2016.


Comments

Popular Posts