Gerimis

Aku melihat cuaca menyewa kesedihan kau untuk menjatuhkan sejumlah gerimis
petang itu.

Di tempat lain yang amat jauh, kau gagal bersembunyi dari air mata yang
tiba-tiba.

Tapi kau membuang tiga tangkai Hisbicus yang aku letakkan di samping sepatu
kau ketika kau terlelap.

Padahal malam-malam sebelum itu, aku hanya habiskan waktu aku untuk berdoa:
kiranya bunga ini menyerap seluruh duka kau, kiranya, biar aku saja yang
menggantikan kau bersedih.

Segala luka kau, telah dicatat ribuan hujan, supaya di ingatan aku masih
tentang kepada kau aku pulang, setelah sejauh apa pun dua langkah ini
bertualang.

Sunyi di mata aku menerka: riris kian luas sampai belantara dada dan,
menandakan malam ini telah bersinonim dengan kalut kau yang urung selesai.

Barangkali kebodohan aku yang lain ialah, merahasiakan bahwa di saku kiri
celana aku selalu menyimpan sejumput pengharapan lain: semoga hujan jatuh
di halaman rumah aku dengan amat deras, untuk menggagalkan langkah kaki
kau, untuk menunda kehilangan di separuh detak aku.

Namun gerimis dan kesedihan tak pernah tak berhasil menciptakan perpisahan.



Yogyakarta, Januari 2016.

Comments

Popular Posts