Hari Ini Kau Pemarah
Caramu menghancurkan matahari bukan dengan air, namun dengan tak menuliskannya puisi ketika pagi tiba, kamu sudah tahu betapa resahnya ia.
Kamu menghela napas dan membujuk air matamu sekali lagi untuk tak saat ini dijatuhkan.
Di rumah saya, kamu satu-satunya penghuni yang paling tak banyak bicara. Kamu menulis puisi saja saat menyuruhku diam—saya tahu kamu sedang marah.
Hari ini kamu tak membaca apa-apa, kepalamu dipenuhi benang-benang yang bergulung seperti gelombang longitudinal, saya sama sekali tak berani menyapamu.
Kamu tak memedulikan langit, padahal hampir saja, saya ingin bilang bahwa dua menit yang lalu pelangi baru saja muncul.
Saya urungkan, kamu kelihatannya bahkan tak peduli dengan wajahmu sendiri hari ini.
Di meja belakang halaman rumah ini saya melihatmu duduk dan menulis sesuatu.
Saya cemas bukan main dan berdoa saja seada-adanya kata—kamu pun tahu saya tak pandai berdoa.
Semoga kamu tak pergi dari rumah ini atau, paling tidak kamu tak menuliskan puisi sedih.
Solo, April 2016.
Kamu menghela napas dan membujuk air matamu sekali lagi untuk tak saat ini dijatuhkan.
Di rumah saya, kamu satu-satunya penghuni yang paling tak banyak bicara. Kamu menulis puisi saja saat menyuruhku diam—saya tahu kamu sedang marah.
Hari ini kamu tak membaca apa-apa, kepalamu dipenuhi benang-benang yang bergulung seperti gelombang longitudinal, saya sama sekali tak berani menyapamu.
Kamu tak memedulikan langit, padahal hampir saja, saya ingin bilang bahwa dua menit yang lalu pelangi baru saja muncul.
Saya urungkan, kamu kelihatannya bahkan tak peduli dengan wajahmu sendiri hari ini.
Di meja belakang halaman rumah ini saya melihatmu duduk dan menulis sesuatu.
Saya cemas bukan main dan berdoa saja seada-adanya kata—kamu pun tahu saya tak pandai berdoa.
Semoga kamu tak pergi dari rumah ini atau, paling tidak kamu tak menuliskan puisi sedih.
Solo, April 2016.
Comments
Post a Comment