Seseorang di dalam Puisi Ini Telah Mati

Seseorang di dalam puisi ini adalah kekasihku yang kau tak perlu menanyakan sedalam apa cintaku kepadanya. Memang masih terukur, karena aku pun tak mampu menerka hari depan, akankah nanti ia masih kucintai atau tak sama sekali. Namun hari ini, jangan dulu kau tanyakan rasa itu.

Seseorang di dalam puisi ini adalah kekasihku yang selalu mengatakan bahwa akulah cinta satu-satunya dengan rasa yang sedalam-dalamnya. Apa aku percaya? Sama sekali tidak. Ia adalah pendusta yang ulung. Pada malam-malam sepi bahkan musim sedang lebat-lebatnya hujan, ia tak sekali-kali mengatakan merindukanku.

Seseorang di dalam puisi ini adalah kekasihku yang tak usai-usai mengutuki dirinya dan begitu membenci hubungan kami. Bagi dirinya, rasa cinta yang sudah terlalu melilit-lilit dan meluap-luap di antara kami tak semestinya ada. Ia selalu bilang begitu kepadaku kemudian memohon maaf karena telah mengatakannnya. Tak sekali dua kali. Namun selalu.

Seseorang di dalam puisi ini adalah kekasihku yang pelupa dan pencemburu. Ia menuliskan nama kekasihnya di telapak tangan. Ia bilang, khawatir andaikata ia lupa namaku. Sekaligus penulisan nama itu dianggapnya sebagai pelindung seandainya suatu waktu ia berjabat tangan dengan orang yang baru dikenalnya. Ia merasa aman, sebab ada diriku di sana, begitu katanya.

Seseorang di dalam puisi ini adalah kekasihku yang melalui aku ia memohon maaf kepadamu atas ketidakwarasannya. Ia terlalu gila untuk kau kenal. Dan ia terlalu singkat di dalam puisi ini. Ia telah tiada, sejak waktu yang sangat lama.



Solo, April 2016.

Comments

Popular Posts