Mengunjungi Ingatan
Kini aku bebas menemukanmu. Waktu telah menanggalkan semua detik dan menitnya. Kau dan apa pun yang pernah tertulis kita, menembus batas ketidakwajaran ingatan ini. Tentangmu bagai catatan tebal, tapi tak sebaris pun menuliskan aku. Mungkin waktu, mungkin kau, mungkin orang-orang yang tenggelam di keriuhan hujan ketika meminjamimu setangkai payung, mungkin saja, namun aku sudah tak berhak menebak.
Daun pintu itu membuka dan menutup, aku memandang orang-orang bergantian keluar-masuk. Tapi mereka tak mengingat kita, atau sekadar mengucap salam, dan pergi tanpa satu kenangan. Dan aku menjumpaimu. Kau satu-satunya yang tak berniat pergi. Ada sebuah tanda di punggungmu. Menegaskan sekali lagi, bahwa kau benar-benar ditakdirkan di sini, untuk waktu yang lebih lama dari yang dapat mereka terka. Di atas kepalamu sebuah isyarat. Barangkali ingin menandaskan kepadaku, bagai pukulan keras yang menyadarkan, bahwa yang kulihat di sini tinggallah ketiadaanmu. Bangkai yang membusuk bertahun-tahun. Nyawa yang kehabisan napas. Atau patung yang ditinggalkan pemahatnya. Kau hanya nama purba di ingatanku. Bayang-bayang yang tak punya jiwa.
Solo, April 2016.
Comments
Post a Comment