Retisalya
Aku tanam duri juga segala yang mungkin mampu melukai, di dekat jantungmu, di hatimu, tapi belukar selalu tumbuh sebagai cinta, yang mematahkan lukaku, berkali-kali.
Barangkali kata, yang tua dan amat kaulupakan, juga biru laut yang pernah membiaskan
parasmu, di sebuah sore yang hujan kita telah habis dijerat betapa rumit waktu.
Badai ini, kehancuran yang tercipta dari kepergianmu, telah berubah jadi desau angin
lembut yang berusaha mencintaimu dengan kepulangan baru.
Suatu nanti dadamu akan pecah, dan akulah rahasia yang terlempar pertama kali dari perangkapnya.
Kemudian sesal dan resahmu yang tertinggal di dalamnya, mengukir namaku dengan tinta yang kerap kauseka dari sudut mata.
Aku bersumpah, sampai waktu yang entah hatimu tak akan menumbuhkan apa pun selain cinta, meski ribuan kali aku coba menimbun duri dan menyimpan tak terhitung nestapa.
2016
Barangkali kata, yang tua dan amat kaulupakan, juga biru laut yang pernah membiaskan
parasmu, di sebuah sore yang hujan kita telah habis dijerat betapa rumit waktu.
Badai ini, kehancuran yang tercipta dari kepergianmu, telah berubah jadi desau angin
lembut yang berusaha mencintaimu dengan kepulangan baru.
Suatu nanti dadamu akan pecah, dan akulah rahasia yang terlempar pertama kali dari perangkapnya.
Kemudian sesal dan resahmu yang tertinggal di dalamnya, mengukir namaku dengan tinta yang kerap kauseka dari sudut mata.
Aku bersumpah, sampai waktu yang entah hatimu tak akan menumbuhkan apa pun selain cinta, meski ribuan kali aku coba menimbun duri dan menyimpan tak terhitung nestapa.
2016
Comments
Post a Comment