Aku Ingin Hilang untuk Menemukanmu
Aku berusaha menghilangkan diriku
Di sela riuh namamu
Biar bayang-bayang ini mengiringi
Ke mana langkah kau pergi
Agar aku tak kehilangan kau
Meski aku harus kehilangan aku
Aku ingin mengunci kakimu
Dengan doa-doaku
Supaya kau hanya melangkah
Ke mana pun yang sanggup kujangkau
Biar aku tak kehilangan
Dua jiwaku sekalian
Ada waktu ketika kau sendiri
Sunyi hingga kau dengar degup jantungmu
Atau seruan ketiadaan
Kau mencintai jarum-jarum jam yang berputar
Mengitari angka-angka
Namun aku jam pasir
Yang tak punya itu semua
Kata-kata dari bibirmu
Sajak-sajak yang dijatuhkan hujan
Dan semua yang tak ada
Telah dimuseumkan waktu
Kita adalah salah satunya
Kita akan menikmati kehampaan
Bagai udara yang hanya membawa debu dan uap hitam dari mesin motor
Dadaku seperti itu
Usai mencium aroma kepergianmu
Kau mendengarkan sebuah lagu
Aku masih was-was akan segala bebunyian tentang perpisahan
Hatiku rapuh
Dan air mataku mudah patah
Terkapar duka di pipimu
Alir dari segala ketidakinginan buruk atasmu
Aku membakar kenangan
Namun tidak pernah mencoba melupakannya
Aku terlanjur suka mengerjakan hal-hal yang sia-sia
Maka aku mencoba melupakanmu lagi dan lagi
Aku ingin hilang untuk menemukanmu
Siapa yang peduli perkara samakah kalimat ini dengan aku ingin mati untuk menghidupkanmu
Atau aku ingin lupa untuk mengingatkanmu
Kau pun tak peduli
Bahkan aku sendiri demikian
Solo, Mei 2016.
Di sela riuh namamu
Biar bayang-bayang ini mengiringi
Ke mana langkah kau pergi
Agar aku tak kehilangan kau
Meski aku harus kehilangan aku
Aku ingin mengunci kakimu
Dengan doa-doaku
Supaya kau hanya melangkah
Ke mana pun yang sanggup kujangkau
Biar aku tak kehilangan
Dua jiwaku sekalian
Ada waktu ketika kau sendiri
Sunyi hingga kau dengar degup jantungmu
Atau seruan ketiadaan
Kau mencintai jarum-jarum jam yang berputar
Mengitari angka-angka
Namun aku jam pasir
Yang tak punya itu semua
Kata-kata dari bibirmu
Sajak-sajak yang dijatuhkan hujan
Dan semua yang tak ada
Telah dimuseumkan waktu
Kita adalah salah satunya
Kita akan menikmati kehampaan
Bagai udara yang hanya membawa debu dan uap hitam dari mesin motor
Dadaku seperti itu
Usai mencium aroma kepergianmu
Kau mendengarkan sebuah lagu
Aku masih was-was akan segala bebunyian tentang perpisahan
Hatiku rapuh
Dan air mataku mudah patah
Terkapar duka di pipimu
Alir dari segala ketidakinginan buruk atasmu
Aku membakar kenangan
Namun tidak pernah mencoba melupakannya
Aku terlanjur suka mengerjakan hal-hal yang sia-sia
Maka aku mencoba melupakanmu lagi dan lagi
Aku ingin hilang untuk menemukanmu
Siapa yang peduli perkara samakah kalimat ini dengan aku ingin mati untuk menghidupkanmu
Atau aku ingin lupa untuk mengingatkanmu
Kau pun tak peduli
Bahkan aku sendiri demikian
Solo, Mei 2016.
Comments
Post a Comment