Surat Koyak di Bangku Halaman Rumah Kau
Angin tidak pernah meniupnya hingga masuk ke halaman rumah kau
Gerbang dengan kepala naga itu pun tak mungkin menggeser sendiri tubuhnya
Dan rumput-rumput menahan surat itu tetap ada di kaki bangku
Terdengar suara marching band dan derap kaki manusia
Di Yogyakarta mereka bilang peristiwa serupa adalah misteri
Seperti keberadaan kau yang belum mampu aku terka
Dan keganjilan itu menyadarkan aku: yang tak terlihat bukan paras cantik kau saja
Kesedihan aku sudah menjelma gutasi
Tanpa pelukaan
Namun sakit sekali
Bagai sayap burung, yang terjebak mendung
Penuh kebekuan di psamolitoral
Bayangan kau akan dijemput waktu
Disemayamkan dalam praba—yang tak terlihat siapa-siapa
Bacalah surat itu sebelum koyak
Atau jaring laba-laba menjeratnya sebagaimana aku dipasung bayang-bayang kau yang maya
Kepala aku adalah pivot masa hidup kau
Dan surat itu undangan kematian aku
Yang terlampau lambat ketibaannya
2016
Gerbang dengan kepala naga itu pun tak mungkin menggeser sendiri tubuhnya
Dan rumput-rumput menahan surat itu tetap ada di kaki bangku
Terdengar suara marching band dan derap kaki manusia
Di Yogyakarta mereka bilang peristiwa serupa adalah misteri
Seperti keberadaan kau yang belum mampu aku terka
Dan keganjilan itu menyadarkan aku: yang tak terlihat bukan paras cantik kau saja
Kesedihan aku sudah menjelma gutasi
Tanpa pelukaan
Namun sakit sekali
Bagai sayap burung, yang terjebak mendung
Penuh kebekuan di psamolitoral
Bayangan kau akan dijemput waktu
Disemayamkan dalam praba—yang tak terlihat siapa-siapa
Bacalah surat itu sebelum koyak
Atau jaring laba-laba menjeratnya sebagaimana aku dipasung bayang-bayang kau yang maya
Kepala aku adalah pivot masa hidup kau
Dan surat itu undangan kematian aku
Yang terlampau lambat ketibaannya
2016
Comments
Post a Comment