Hujan yang Jatuh di Jembatan

Langkahku berhenti.
Tepat di sisi jalan yang terbelah empat.
Di sebuah pos kecil dengan genteng yang berantakan.

Aku memandang hujan atau hujan yang memandang aku.
Tidak ada siapa pun di sini tapi aku melihat orang-orang melihatku.
Daun-daun tak suka musik, namun untuk sore ini saja mereka menari-nari.
Seperti turut merayakan kegelisahanku.

Jalanan basah dan semua ingatan manusia di kota ini akan pulang, setidaknya begitu.
Langit di sana mengecat warna abu-abu.
Ada satu kata yang menyolok dalam siluet biru.
Aku mengenali kata itu sebagai namamu.

Seluruh rasa dingin ini telah membeku. Menjadi beku.
Aku tidak mampu menebak apakah terjadi di dalam awan-awan yang semakin turun, atau justru di ingatanmu.

Sebelas langkah dari aku duduk, ada jembatan kecil.
Barangkali belum pantas disebut jembatan.
Ia hanya sekitar tiga meter menghubungkan dua sisi jalan yang terpisah parit besar.
Hujan ini lebih mungkin kausebut jembatan.
Ia hubungkan tentang kau yang jauh di masa lalu, dengan kesedihan lain di masa yang sudah tak menghadirkan dirimu di hadapanku.



Solo, Mei 2016.

Comments

Popular Posts