Merekam Keheningan
Sebelum aku ceritakan akan mendengarkan apa kita setelah ini, aku katakan padamu bahwa aku sangat suka mendengar suara bambu bergesekan, juga daun-daunnya yang berjatuhan di atap rumah menjelang tibanya hujan. Bagiku itu mengagumkan, terlebih, yang tak pernah aku sampaikan padamu, itu mendamaikan.
Aku seperti mendengarkanmu berbicara lembut sekali pada suatu sore yang cerah di bibir pantai. Bayangkanlah aku duduk di sampingmu sambil menggengam segelas minuman—terserah apa—dan kau sibuk menyembunyikan pipimu yang memerah sehabis membaca puisi yang aku tuliskan. Aku suka mendengarkan kau bercerita dan, sesungguhnya, lebih suka mendengarkan kau diam.
Kau, di mataku, begitu mengagumkan. Kemudian kita bercerita apa saja. Kau biasanya mengulang tak kurang enam belas kali kalimat yang sama dalam satu pertemuan kita. Kau katakan, kau mencintaiku. Lalu kita melewati hening yang sangat panjang dan matamu masih berkata bahwa kau mencintaiku—kau tak peduli senja di depan sana indah sekali.
Debur ombak dan desau angin sesekali mencuri perhatianku. Tapi bukan itu yang ingin aku ceritakan padamu. Aku lebih menyukai keheningan. Sering aku meletakkannya di puncak kerinduanku, bahkan ketika kau masih duduk manis di sampingku. Sayangnya, tak ada kamera digital ataupun ponsel di saku celana atau tas kecil yang kaugeletakkan di pasir dekat kita duduk. Sengaja tak kubawa apa pun, karena aku pikir berdua denganmu sudah terlampau cukup.
Akhirnya di dalam kepala ini saja aku merekam keheningan kita yang lebih indah dari senja, lebih mendamaikan dari suara daun-daun yang jatuh ke atap rumah. Dan kau melakukan hal yang sama. Di dalam dadamu kau rekam kesunyian kita.
Entah siapa yang nanti lebih dulu terjerat rindu, kita telah saling membagi separuh diri masing-masing. Di dalam keheningan ini, tentu saja.
Solo, Mei 2016.

Comments
Post a Comment