Pertemuan di Suatu Hari
Kita merencanakan pertemuan, dan pada waktu yang bertepatan, kita direncanakan oleh kehilangan.
Tak ada yang kubawa pulang pada siang itu, selain senyum yang berhari-hari tak mau enyah dari bibirku. Wajahmu aku lupa, tapi semua kata, ia kupastikan tetap ada.
Ini aku mengenangmu masih, tentang sebuah janji dengan ketibaan yang terlambat. Dan di sana tak kudengar ucapan maaf.
Aku tulis pertemuan itu, dan kubaca berulang-berulang. Sekadar menyiasati rindu, takdir di keningku tak pandai membaca pertanda, sebab itu aku menuliskanmu.
Hari yang lain ketika ingatanmu sudah mengabur entah menjelma nama siapa, aku masih terjebak waktu, di hari kau menjabat tanganku dan meninggalkan rasa sepi di sela-sela jari. Terselip doa diam-diam, semacam harapan yang menjelma rahasia. Semoga, ada pertemuan lain di hari setelahnya.
Sunyi di matamu dan kecemasan kecil yang meletup pelan di dadaku, mengisyaratkan dua hal tentang pecahan-pecahan berbeda di kepala kita. Aku barangkali di sini dan entah di mana, tetapi kau jauh sekali entah bersama kenangan yang mana.
Pertemuan di suatu hari, adalah jalan dengan sedikit lubang di bahunya, atau hujan dengan gerimis yang menjatuhkan nama-nama, dan kita sepasang roda pada sebuah sepeda lama yang diam di sudut gudang tua. Terlalu hangat. Terlalu ramai untuk berdua.
Solo, Mei 2016.

Hallo, nice to visit your blog :)
ReplyDelete