Stasiun, Anggur, dan Kabar Burung
Hari yang berjalan berat seperti kereta dengan ribuan penumpang. Mereka belum rela pergi, atau para kekasihnya yang belum siap ditinggalkan. Tapi satu per satu gerbong mulai melaju. Dan lambaian tangan masih menggantung di jendela yang berdebu.
Kita bagaikan sepasang perpisahan yang tak seimbang. Dua anak timbangan dengan massa berbeda. Kau yang tak ada. Dan aku yang menanggung luka. Kita adalah sepasang kabar burung di tengah-tengah prahara. Sebencana itu. Semestinya tidak pernah, atau diterbangkan saja. Atau jatuh dan terkoyak-koyak, biar kebencian membawa kita ke jurang yang belum dijamah. Biar disembuyikan oleh semak-semak. Biar diselimuti lumut-lumut hijau yang menghitam. Biar hanyut dan, kita tak pernah sampai ke telinga siapa pun.
Akan ada waktu ketika pohon-pohon anggur tak berbuah. Tubuhnya hanya menjalar-jalar. Dan petani anggur menemukan nama kita di sisi daun-daunnya. Kita akan terhapus, atau abadi, atau tidak keduanya. Aku bersyukur dan kau merapatkan kesepuluh jari tanganmu seperti orang-orang Eskimo kedinginan. Kita menyesali hidup. Dan kita sangat menyesali orang-orang di stasiun yang ingin bergegas pergi. Di tangan mereka segelas anggur. Telinga mereka mendengar kabar burung yang sayapnya patah. Dan kita bersyukur sekali lagi. Kita bukan mereka. Kita hanya nama yang akan terhapus, atau abadi, atau tidak keduanya.
Solo, Mei 2016.

Comments
Post a Comment