Langkah

pada sebuah sore yang mendung, di tempat yang jauh dengan rindu tak terbendung


Kucari kau di antara riuh angin sore yang berebut jalan pulang,
dan di lipatan waktu yang memangkas jarak musim semi.
Namun kutemukan bayangan yang memeluk dirinya sendiri,
seakan menegaskan bahwasanya
kesepian itu ada di tengah-tengah ramainya omong kosong.

Aku memutar jarum jam ke arah di mana
kali terakhir kau melangkah pergi.
Sambil berdoa suatu hari nanti
menit-menit indah yang bersamamu itu mampu kuciptakan
dengan seseorang yang tanpa harus kau pun
aku merasa cukup.

Sebab wajahmu telah menjadi ranjang di mana
tidurku adalah mimpi burukmu.
Dan kakiku telah menjadi jalan di mana langkahmu
hanya akan tersesat di tubuhku.
Kau menulis seribu puisi, katamu itu
adalah peta untuk sesorang yang
lupa jalan pulang.
Kau mengulurkan lengan, menawarkan pelukan.
Tapi tiba-tiba gerimis empat sore
membuyarkan lamunan.



Juni, 2017.


Comments

Popular Posts